Kemarin 4 Agustus 2009 sekitar pukul 10.30 WIB Mbah Urip Ariyanto alias Mbah Surip Meninggal dunia… Berita duka ini mencutat mencolot sampai ketelinga saya, ketika salah satu teman kami mengabari lewat sms, bahwa Mbah Surip meninggal terkena serangan jantung, kemarin siang… sebagai seorang pengemar Mbah Surip Kabar layang duka dari bolo Kurowo tersebut seakan terkena tendangan Dollyo Chagi ( Istilah dlm Taekwondo=Tendangan melingkar) dari Jacky Chan mutlak tepat di muka saya, belum sempat melakukan Eolgol Makki (Istilah dlm Taekwondo= Tangkisan ke arah kepala) Sudah ngeledak njempalik terjatuh…. Sakit dan Sedih buanget… kenapa, krn aku adalah penggemar mbah surip….
Entah kenapa ketika pertama kali melihat Video klip mbah Surip Tak gendong filling hati saya langsung mengidolakannya, saya merasa menemukan sosok lain dari seorang musisi seperti Mbah Surip dengan musisi lainnya… Mbah Surip berbeda…. ini yang paling aku suka dari mbah Surip, dia Sederhana dan apa-adanya. Disaat banyak musisi menjadi seperti artis, menjadi populer dan terkenal, hidup mewah dengan bergelimang harta… tetapi si Mbah ini Berbeda, dia apa-adanya, kemana-mana hanya naik motor, rambut gimbal, topi kupluk lorek-lorek kuwi-kuwi wae ora tau ganti, ora tau di make Up, lugu, tidak suka makan makanan yang mahal, cuman kopi dan sebatang rokok sudah cukup, rumah masih ngontrak, luntang-lantung, berteman dengan siapa saja, banyak teman, slengean, Klomprot dan cuek akan penampilan, jauh dari terkesan kinclong sebagai mana penyanyi, artis, atau model yang terkenal lainnya……ha…ha…ha…. piye jal…. hebat tenan ora???
Cuma saya sedang memikirkan sesuatu yang mungkin anda pernah pikirkan. Saat mencoba resting pikiran, sambil meneguk kopi hangat, didalam kamar ini sembari menikmati dinginnya udara malam yang merasuk menyusup didalam kamar melalui celah jendela, diluar bulan setengah purnama memancarkan cahyanya, Langit agak berkabut dan lumayan sejuk. Sengaja dari tadi gitar bekas dalam pangkuan dan dekapan kedua belah tangan, jemari tangan kanan memetik dawai senar dengan lincahnya sehingga suara dinting gitar terdengar merdu, alun sekali terdengar hanya diruangan 15 meter persegi kamar ini saja.
Saya bunyikan gitar ini untuk melantunkan lagu lagu yang soft, supaya sedikit membantu slowing down laju roda roda gigi di otak. Secara kebetulan karena suffle mode saya on kan, mungkin cicak didinding yang pernah menghadiahi tai itu membuka kuping lebar-lebar untuk mendengarkan alunan lagu ini… Jam dinding ikut mengiringi alunan lagu saya dengan ketukan bunyi detik jarum jam mengatur irama… terdengar lagu manis nan merdu Suaraku menyanyikan lagu bang Iwan Fals, yang berjudul Sore Tugu Pancoran, entah karena pikiran lagi kosong, syair lagu menjadi terasa masuk mengisi pikiran, secara tak sadar pula saya mencerna bait demi bait, kata demi kata yang saya nyanyikan. Sehingga teringat akan sebuah kejadian pada suatu hari Kemarin, yang mengetuk hati ini….
Alunan Musik Regression The dream Theater mengawali dan mengiringi pengNgarambayngan pikiran iki tekan ndi-ndi…. Entah karena pikiran lagi kosong, syair lagu menjadi terasa masuk mengisi pikiran, yah cukup untuk membantu pikiran ini untuk Ngrambyang tekan ndi-ndi mikir sing ora-ora…
Akhir-akhir ini hal yang sedang hangat untuk di perbincangkan oleh masyarakat banyak adalah tentag Pilpres yang rabu besuk 8 juli 2009 diselengarakan di seluruh Indonesia.. Semua headline koran yang terbit minggu ini kebanyakan berisi tentang kabar kampanye Para Calon Presiden dan janji-janji nya, ulasan debat para calon presiden, hasil polling, iklan-iklan mewah di TV Kampanye para calon presiden, begitu Wah-nya dan meriah-nya Pilpres…. Tapi bagi saya hingar bingar pilpres yang akan dilaksanakan besuk belum banyak menyita perhatian saya, karena kesibukan oleh aktifitas sehari-ahri golek upo membuat waktu dan pikiran ini banyak tersita…
Tetapi ada satu hal yang tidak lepas dari perhatian ini dan masih saja mengendap di rongga-rongga otak ini dan selalu memaksa pikiran ini untuk terus berpikir ketika malam ini saya masih terjaga… Hal tersebut adalah sebuah anomali yang saya lihat, saksikan dan baca, juga perdebatkan dengan kakak saya pagi tadi… Tanda-tanda ini semakin nyata ketika beberapa hari ini saya disaksikan akan hal-hal aneh yang sedang terjadi dan dialami oleh bumi tempat segala macam kehidupan ini berada di dalamnya…
Cairan hidung sudah dua hari ini sering mengganggu aktivitas keseharian saya, badan pating gregesh terasa sering linu.. umbele pating tlewerrrr….. sentrapp-sentrrruuppp…. asin terasa ketika tidak sengaja cairan tersebut menyentuh lidah ini…
fiuuuh…
Sejenak mata tertuju pada onggokan Celana jeans kumal cemanthel di chantolan baju dibalik pintu masuk kamar. ditemani beberapa jaket mambu tiga bulan dipakai dan belum pernah dicuci sama sekali, koleksi topi juga tak luput dari pandangan ini berkumpul menjadi satu dengan kaos khotank, shuwempack, segelintir kaos kaki tanpa pasangan (pasangannya hilang mbuh nang ndi..), dan dasi kotak kebiruan yang cemantel menjadi satu di sebelahnya. bergeser ke kanan terdapat lemari baju, dengan tememplek cermin di sisi sebelah kiri, dibawah cermin terdapat Bedak Caladine, minyak rambut gatsby wax, Rexona active for man, balsam gosok rheumason, parfum AXL putih dan juga parfum Bravas warna kuning mirip air kencing hanya saja yang membedakan adalah wanginnya… parfum ini dibeli di Bengkalis oleh-oleh dari Ndoro Sunan, entah parfum itu asli atau tidak (katanya barang slundupan dari Singapura) yang pasti saya bayar dengan 25 lembar uang kertas gambar Patimura yang sedang membawa pedang…
Malam ini saya masih terjaga… Kedua belah mata memandangi LCD Flatron mengawasi setiap pergerakan traffic transaksi pulsa elektronik yang terjadi malam ini, tangan pun ikut sibuk mengerakan mouse dan memijit keyboard untuk mengontrol system server yang berjalan secara Auto pilot. Sambil meneguk jus jambu yang terbungkus dalam kemasan 1000 ml dan sebatang rokok basi, Sembari menikmati dinginnya udara malam menembus tebalnya jaket Palatino yang membungkus rapat badan ini. Sengaja dari tadi winamp saya aktifkan untuk melantunkan lagu lagu yang soft, supaya sedikit membantu slowing down laju perputaran mesin di dalam tempurung otak ini.
…………………..
Saya tersenyum kecut, jika mengingat kembali berbagai rentetan peristiwa yang lalu terekam dalam memori yang jelas-jelas sangat menganjal hati…
Teringat ceritamu hai Sahabat…
Ketika kamu bercerita tentang prestasi yang telah engkau dapatkan, dihadapan teman-teman kamu yang minim prestasi ini..
Ketika kamu bercerita tentang kecerdasan dan kepintaran kamu dalam menyelesaikan masalah, dihadapan teman-teman kamu yang sangat bodoh ini..
Ketika kamu bercerita tentang harta benda mewah yang kamu miliki, dihadapan teman-teman kamu yang miskin ini…
Ketika kamu pandai berargumen dengan mulut yang lihai dalam mempertahankan kebenaran pendapatamu, dihadapan teman-teman kamu yang Ngah-ngoh ini…
Atau…
“Sur, aku tak mancing nang sebelah kene wae..”
“yo wis, aku tak mancing nang kono..nang pojokan kono..” ucap teman kami suryo, sambil mengacungkan jari telunjuk menujukan arah ke utara sungai entah kemana. Beberapa saat, saya sudah tidak melihat batang hidung si suryo. Memang kalo mancing paling enak mencari tempat yang tenang, biar ikannya tidak takut untuk memakan umpannya.
Sore, kurang lebih enam tahun yang lalu, di pinggir sungai banjir kanal timur Semarang. kedua sahabat SMP yang sama-sama suka hobi mancing di pinggiran sungai banjir kanal timur. Sore itu tidak hanya saya dan temanku saja yang sedang mancing di situ tetapi banyak juga orang lain yang sehobi dengan kami memacing di sungai tersebut.
Cacing saya jadikan umpan yang saya kaitkan di kail lalu melemparnya ketengah dengan satu kali hempasan ayunan walesan yang saya bawa dari rumah.
Cemmpluuungggg….!!!
Suasana di tempat saya mancing hening waktu itu.. hanya gemercik air sungai yang agak busem berdecik ketika air menabrak dinding bebatuan dipinggir sungai.
Keheningan tersebut membuat saya betah memegangi walesan dengan sabarnya.. sambil mata melototi tajam setiap pergerakan bandul pancingan.. jika bandul pancing bergetar pertanda bahwa umpan sedang dimakan oleh ikan.
dalam keheningan tersebut lalu…