Sholat Subuh
Sudah beberapa hari ini saya terlambat dalam melaksanakan sholat subuh, keterlambatan saya dalam melaksanakan sholat subuh masih lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu, beberapa bulan yang lalu sholat subuh saya banyak yang bolong. Peristiwa keterlambatan dan tidak melaksanakan sholat subuh membuat saya memberontak akan kekilafan saya untuk menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan tersebut secara berulang-ulang lagi.
Postingan kali ini saya tergugah dan terbangun atas dorongan yang timbul dari lubuk hati saya yang paling dalam untuk menulis akan peristiwa ini.
Pagi hari tadi saya bangun jam 5 lebih lima menit, terlambat hampir satu jam untuk menunaikan sholat subuh, karena biasanya adzan subuh berkumandang tepat pukul jam empat pagi.
Bergegas saya berdiri dengan rasa kantuk yang masih mengelayuti kedua mata saya, sekejap saya melangkahkan kaki untuk mengambil air wudlu karena takut jika terlambat menunaikan sholat subuh, Sedangkan sebentar lagi matahari mulai menampakan dirinya dari ufuk sebelah timur.
Saya menyadari bahwa keterlambatan saya melaksanakan sholat subuh hari ini merupakan kesalahan yang sangat fatal, atau bahkan jika saya tidak melaksanakan sholat subuh saya termasuk orang-orang yang menyepelekan sholat subuh. Dan orang-orang yang menyepelekan sholat subuh termasuk golongan orang-orang yang munafik.
Saya teringat dengan ceramah bapak ustadz yang mengutip dari sabda Rosul yang isinya begini, “ Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan Subuh” (HR Ahmad). Menurut cerita bapak ustadz lagi bahwa sholat subuh menjadi tolak ukur keimanan seseorang.
Saya menyadari keimanan saya, keimanan saya sedang dalam posisi level terendah, apakah ini terdapat erat kaitannya dengan dampak resesi global??, tingkat keimanan seseorang ikut turun seiring turunya harga saham di lantai bursa. Saya rasa bukan itu.
Saya merupakan bagian terkecil dari keseluruhan umat manusia yang mengaku muslim yang meremehkan pelaksanaan sholat subuh secara berjamaah. Umumnya, yang konsisten menjalankan sholat subuh berjamaah hanyalah mereka yang telah lanjut usia, itupun hanya beberapa gelintir saja.
Menurut bapak ustadz lagi, Kalau bukan kerena ketentuan dan ketetapan Alloh, jika kita diberi kelebihan untuk bisa mendengarkan suara benda-benda mati maka, Sesungguhnya Masjid-masjid di seluruh muka bumi ini menangis meneteskan air mata merintih pedih dan mengeluh kepada Alloh Swt karena mesjid-mesjid tersebut dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika waktu sholat subuh datang memanggil.
Ketika adzan subuh berkumandang, kita masih merasakan enaknya tidur diatas kasur yang empuk, berselimutkan selimut yang hangat atau sedang menikmati mimpi-mimpi yang indah, kita seakan tidur terlelap seperti bangkai yang lupa akan panggilan sholat.
Sedangkan Masjid-masjid merintih tatkala di waktu sholat subuh berjamaah dikumandangkan dan ditegakan. Masjid seperti “Panti Jompo” karena hanya dihadiri oleh orang-orang yang telah lanjut usia.
Dimanakah kaum muda kita?? Dimanakah kaum muda seperti saya???
Saya masih terlelap….
Begitu juga dengan yang lainnya….(mungkin???) semoga saja tidak!!!.
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-MU dari sifat bakhil, aku berlindung kepada-MU dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-MU dari fitnah dunia, aku berlindung kepada-MU dari orang-orang munafik. Dan aku berlindung kepada-MU dari adzab kubur… Ya Alloh selamatkan saya dari api neraka.”
Amien…
Wasalam,
DeZan Venko Santovic