Sebuah Cita-Cita

2008 Desember 12
by thewindofchange

dream-onPuluhan tahun yang lalu di sebuah ruangan yang penuh dengan mainan, gambar, dan buku-buku cerita di TK Harapan, sebuah Taman Kanak-kanak yang letaknya di sebelah kiri jalan Raden Patah Semarang, entah apakah sampai sekarang TK yang dahulu selama dua tahun saya mengenyam pendidikan belajar, bermain, menyanyi dan membaca ini masih tetap eksis menelurkan siswa-siswanya untuk meneruskan belajar di tingkat yang lebih tinggi?

Teringat ketika itu di kelas, ibu guru bercerita tentang bermacam-macam profesi, diceritakanya dengan sabar satu per satu profesi kepada para murid-muridnya yang masih umbelen sambil memperlihatkan sebuah gambar yang berkaitan dengan profesi yang diceritakan tersebut. Mulai dari profesi seorang petani, polisi, insinyur, dokter, tentara, presiden, dll.

“ siapa hayo yang ingin menjadi polisi??” Tanya ibu guru kepada murid-muridnya.

“saya bu guru!!!” teriak beberapa murid dengan mengacungkan jarinya.

“ siapa hayo yang ingin menjadi presiden??” Tanya ibu guru lagi.

“Saya Bu!!!!” teriak murid –murid lagi pada berebutan mengangkat tangannya untuk mencuri perhatian sang guru.

“ Edy apa cita-cita kamu ketika kamu besar nanti? Tanya ibu guru kepada edy teman yang duduknya satu meja dengan saya.

“Tentala Buk!!!” jawab Edy celat

“ya bagusss!!! sekarang Ratih apa cita-cita kamu setelah besar nanti???” Tanya ibu guru lagi kepada ratih temen sekelasku.

“aku ingin menjadi dokter bu!!!

“ya… baguss!!! sekarang kamu Fer, apa cita-cita kamu ketika kamu dewasa nanti?? Tanya ibu guru kepadaku.

saya ndombloh wae…

“ ayo apa cita-cita kamu fer??” Tanya ibu guru lagi.

saya tetep ndobleh wae…

“kamu tidak punya cita-cita ya??? Tanya lagi

Saya tetep wae ndombloh, ndobleh lalu nyengir meringis memperlihatkan gigi krowak hitam-hitam menandakan kalau saya permen mania.

Maklum usia ketika itu syaraf-syaraf yang ada di bawah tempurung otak saya hanya berisi penuh dengan hal-hal yang berbau mainan, plorotan, yan-yunan, playon, mbek oyak-oyakan, gelut-gelutan, mbek tawuran, ngalamun sing ora-ora, ndobleh, ngeces, nangis dewe, nguya-nguyu dewe, mbek sejenise. Itu aja kemampuan otak saya waktu itu, belum pernah terlintas terpikiran untuk memikirkan masa depan.

Ketika saya naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi mengenakan celana pendek berwarna merah pakaian putih pakai dasi dan topi warna merah bertuliskan Tut Wuri Handayani. pertanyaan yang sama sering terlontar dari bapak ibu guru ketika itu.

“ cita-cita kamu apa?” Tanya pak guru.

tetep wae aku ora biso njawab lha wong pas SD pikirane yo mung cuman Setinan, Umbulan, Templekan, main game watch, bal-balan, gangsingan, dolanan Tamiya, tong umpet, layangan, pit-pitan, opo maneh ngarap PR sinau wae yo dong-dongan, wes jan jaman kuwi aku sak penak e dewe ceritane.

Pas SD aku durung sampek pikiranku kuwi mikir tekan sak mono, mikir cita-cita..

SMP, SMA yo podo wae….wis jan dasar wong sing ora jelas arah dan tujuanne…

Tetapi…

Sekarang usia saya sudah 25 Tahun pada desember tahun ini. beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun saya sama seperti dua puluh empat tahun yang lalu, tidak ada aktifitas perayaan sama sekali. tetapi hari ulang tahun saya pada tahun ini sangat special sebab dirayakan oleh seluruh kaum muslim sedunia karena bertepatan pada hari Idul Adha.

Dan juga ucapan selamat dari para bolo kurowo dan lingkaran sahabat saya yang ujung-ujungnya minta traktir makan-makan. Ngosu tenan rak??

Sekarang setelah puluhan tahun, saya masih sulit untuk menjawab pertanyaan yang sama seperti apa yang pernah terlontar dari bapak ibu guru ketika saya masih taman kanak-kanak maupun SD, SMP, dan SMA puluhan tahun yang lalu.

Bukan kah kamu sekarang sudah dewasa? tidak seperti kanak-kanak lagi yang dalam otak isinya hanya bermain saja. sekarang kan kamu sudah mampu berpikir dengan rasional khan??mikir masa depan lah???

betul…

tetapi saya pun masih bingung menentukan cita-cita saya saat ini.

Sebab saya beranggapan bahwa sebuah konsepsi logis belum tentu berjalan secara pararel dalam tataran praktis. Modar rak kowe opo maneh ki!!!

Wiro Sableng pernah memberi petuah kepada saya dalam gemblengan kepada para murid-muridnya bahwa cita-cita itu tak ubahnya sebuah jalan raya, dimana ada pertigaan, perempatan, bunderan, simpangan selalu bercabang dan tiada ujungnya. Ketika kamu sudah memilih suatu jalan lalu bertemu dengan pertigaan kamu harus menentukan pilihan dan pilihan tersebut terkadang berlainan tujuan dengan jalan yang sudah kamu rencanakan dan pilih sebelumnya.

Begitu pula Sinto Gendeng pernah menasehati bahwa cita-cita itu ibarat pohon dimana selalu tumbuh dan bercabang.

Saya pernah merasakan beberapa tahun bekerja dengan keringat, pisuh-pisuhan dan kerja keras saya memperoleh penghasilan sendiri yang lebih dari cukup bagi saya. cukup buat bayar kuliah sendiri dan cukup buat hidup foya-foya. Tetapi yang saya rasakan tidak seperti yang orang lain lihat bahwa pekerjaan yang saya tekuni waktu itu sudah cukup membuat hati saya puas.

Saya adalah manusia yang selalu merasa tidak puas.

Dulu saya menganggap bahwa sebuah ketidak puasan akan kenyamanan itu merupakan sebuah klise, tetapi itu benar apa adannya, dan terjadi pada diri saya sendiri. Bajilak!!!

Wiro Sableng mbek Sinto Gendeng memang iso dicekel omongane, kalo cita-cita itu terus tumbuh, dan kita manusia yang tidak pernah merasa puas akan terus mengejar cita-cita yang selalu tumbuh berkembang terus tiada hentinya.

Capek!!!

Capek bukan merupakan kata akhir tetapi jadikanlah capek itu sebagai awal perjuangan selanjutnya dalam mengejar cita-cita.

Mungkin jawaban yang terlontar ketika saat ini saya ditanya lagi apa cita-cita kamu??

Mungkin saya hanya bisa menjawab

“Sampai saat ini, detik ini saya hanyalah seorang pengelana jati diri, saya menjadi pejuang yang sedang mencari jati diri, dalam memperoleh masa depan yang lebih baik, kebahagiaan, dan ketentraman batin. apapun profesinya, seberapapun penghasilannya. itu saja!”

Ter-Ngosoe,

Dean Santovic.

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS