Si Budi Kecil Stasiun Pekalongan

2009 Juli 13
by thewindofchange

malamdipekalonganka4Cuma saya sedang memikirkan sesuatu yang mungkin anda pernah pikirkan. Saat mencoba resting pikiran, sambil meneguk kopi hangat, didalam kamar ini sembari menikmati dinginnya udara malam yang merasuk menyusup didalam kamar melalui celah jendela, diluar bulan setengah purnama memancarkan cahyanya, Langit agak berkabut dan lumayan sejuk. Sengaja dari tadi gitar bekas dalam pangkuan dan dekapan kedua belah tangan, jemari tangan kanan memetik dawai senar dengan lincahnya sehingga suara dinting gitar terdengar merdu, alun sekali terdengar hanya diruangan 15 meter persegi kamar ini saja.

Saya bunyikan gitar ini untuk melantunkan lagu lagu yang soft, supaya sedikit membantu slowing down laju roda roda gigi di otak. Secara kebetulan karena suffle mode saya on kan, mungkin cicak didinding yang pernah menghadiahi tai itu membuka kuping lebar-lebar untuk mendengarkan alunan lagu ini… Jam dinding ikut mengiringi alunan lagu saya dengan ketukan bunyi detik jarum jam mengatur irama… terdengar lagu manis nan merdu Suaraku menyanyikan lagu bang Iwan Fals, yang berjudul Sore Tugu Pancoran, entah karena pikiran lagi kosong, syair lagu menjadi terasa masuk mengisi pikiran, secara tak sadar pula saya mencerna bait demi bait, kata demi kata yang saya nyanyikan. Sehingga teringat akan sebuah kejadian pada suatu hari Kemarin, yang mengetuk hati ini….

Ceritannya kurang lebih setahun yang lalu. Ketika semua keperluan saya hari itu di Jakarta telah selesai, saya putuskan untuk kembali ke Semarang. Sudah 3 hari berkelana  di Jakarta mengadu nasib, mencoba keberuntungan di kota Metropolitan Jakarta. Sebelumnya  Tak lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada Bolo kurowo rewo-rewo Septiyanto yang telah banyak membantu saya ketika berada di Jakarta, kota metropolitan yang katannya sangat tidak bersahabat bagi para pendatang, terimakasih atas Tempat istirahatnya, Peta Jakarta, dan semua petunjuk nasihat yang membuat aku tidak tersesat di kota Jakarta, tankiyu bos, semoga Allah SWT membalas semua baik budimu…

Tiket kereta api Api Senja Utama jurusan Pasar Senen Jakarta Pusat-Stasiun Kota Tawang Semarang sudah kami dapatkan sore hari itu, setelah Magrib saya menuju Stasiun Senen dari kos-kosan teman dengan diantar Kurowo Septianto dengan berkendara sepeda motor dinas GL Pro berpelat merah milik Departemen keuangan, karena Jakarta sering macet maka sang driver Ojek Gratis Asep dengan lincahnya memilih jalur alternatif dengan harapan untuk menghindari kemacetan, ketika itu melewati gang-gang sapi, maaf kami menyebut gang sapi karena Kalau gang tikus terlalu kecil, sedangkan gang tikus tidak bisa dilewati bemo, motor, angkot, becak, mobil dan lain-lain, jadi saya sebut saja gang sapi,  ternyata prediksi kami salah gang sapi juga ikut macet…. dari pemukiman padat Cempaka putih Jakarta Pusat menuju stasiun Senen, macet dimana-mana, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 15 menit menjadi lebih lama waktu tempuhnya, stres… stres jika tiap hari macet begini, mungkin penduduk Jakarta sudah sangat berteman akrab dengan stres, bisa juga tingkat stress warga dikota ini sangat tinggi… ini lah cerminan kota Jakarta, Kota yang katanya sebagai tempat labuhan semua cita-cita dan impian.

Tak berapa lama saya sudah samapi di Stasiun Senen, jam tangan menunjukan pukul 19.00 jika sesuai jadwal sebentar lagi kereta akan berangkat… diatas rel Kereta sudah menunggu Kereta dan barisan gerbongnya, bergegas saya menuju penjaga untuk menunjukan tiket kepada penjaga… masuk gerbong mencari nomor tempat duduk, clingak-clinguk dewe kiri-kanan mata Lirak-pelirik berharap menemukan cewek cantik buat menemani ngobrol selama perjalanan didalam kereta.. tetapi ora ono, ora ketemu,,, ya sudah duduk sendiri… tak lupa ransel yang seharian tak gendong kemana-mana saya taruh pada tempatnya….sepi… yah mungkin ini bukan hari liburan kali, jadi tak banyak penumpang yang mudik pulang kampung pada hari itu…tak berapa lama kereta senja utama jurusan Senen-Tawang berangkat, Bunyi pelui kereta berbunyi nyaring… TUUUUuuuuTTT……..TuuuuuuuuuuTT…. pertanda kereta akan segera berangkat…

Getaran kereta terasa pelan melaju kedepan, sangat terasa….  dibalik kaca jendela dari tempat ku bersandar  mata memandang arah keluar gerbong, seiring lantun kereta mata ini memandang kerumunan para pengantar yang ikut mengantar sanak saudara mereka yang hendak berpergian jauh melambaikan tangan dan tersenyum, ini lah saat-saat perpisahan bagi mereka yang ditinggalkan pergi…  apa yang nampak dari raut wajah mereka tampak lukisan kesedihan.. memang kadang perpisahan ini merampas bijak hati dari seseorang yang ditinggalkan orang yang mereka cintai…

Kemudian tanggan ini meraih Hp di dalam saku celana untuk memberi kabar orang rumah untuk menjemput di stasiun Tawang, pagi hari nanti, atur  posisi nyaman menyandar pada kursi, samping sisi kiri di sebelah tempat duduk saya tidak ada penumpang, kursi desebelah sana pun juga kosong…. puftt, 30 menit kemudian mencoba untuk memejamkan mata…..

Lelah terasa …Selama dalam perjalanan di dalam kereta saya banyak tertidur pulas, Sampai suatu ketika saya terbangun, saya dibangunkan oleh suara sayup-sayup para pedagang yang menjajakan barang dagangannya, mata saya masih terpejam, tetapi telinga ini mendengarkan sayup-sayup suara pedagang yang menjajakan barang daganganya, dalam ramainya suara  para pedagang yang menjajakan barang dagangannya, telinga ini fokus pada salah satu suara, ada salah satu suara yang membuat otak ini fokus pada satu suara yang membuat (RAS) Rectangular Activity System dalam otak ini bekerja… saya mencoba untuk membuka mata, mencari asal dari suara yang mengaktifkan RAS otak saya tersebut…. sedikit mengucek-ucek mata plingak-plinguk, dan ternyata saya baru tersadarkan bahwa saya sudah sampai di Pekalongan, Kereta Api singgah sebentar menurunkan penumpang di Stasiun Pekalongan, dini hari waktu itu… RAS dalam otak ini masih aktif bekerja dan mengingatkan saya untuk kembali fokus pada suara tadi… sehingga kuping, mata dan otak ini mencari sumber suara tersebut… saya terkejut… ketika saya menemukan asal sumber suara tersebut. Ternyata suara pedagang tersebut berasal dari seorang anak kecil penjual POP MI yang berdiri di samping pintu masuk gerbang yang sedang menjajakan dan menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang berada didekatnya…

Keterkejutan saya cukup beralasan, anak sekecil itu Dini Hari masih berjuang mencari uang bekerja menjajakan dagangannya kepada para penumpang, kalau bisa dapat saya tebak, paling umurnya tidak lebih dari 10 tahun.

Saya perhatikan anak kecil itu, dengan sabarnya ia menawarkan daganganya kepada para penumpang kereta dini haris-30d47504 itu satu-persatu, dengan sabarnya, dan tekunnya walaupun banyak penumpang yang acuh akan kehadirannya, acuh akan penawaran barang dagangan yang ia tawarkan.. sesekali dengan pakaian lusuhnya digunakan mengusap wajah yang basah dengan keringat, sangat jelas nampak rasa kantuk, dan lelah dalam raut wajahnya. ketika kereta kembali akan berangkat lagi, anak kecil tersebut berlari dengan berat membawa daganganya menuju pintu keluar gerbong lalu meloncat turun keluar dari gerbong kereta yang pelan kembali berangkat meningalkan stasiun pemberhentian di Kota pekalongan melanjutkan perjalanannya, dengan tangan hampa tak sepeserpun uang ia dapat….

Begitulah yang ia lakukan ketika itu. Melihat nya, saya merasa iba dalam hati saya….dimana banyak anak seusiannya saat ini sedang terlelap dalam indahnya mimpi, dalam dekapan hangat selimut dan pelukan kasih sayang sang ibu dalam kamar di rumah masing-masing, Nasib anak kecil tersebut sangat berbeda jauh dengan kehidupan saya ketika saya seusianya,  dahulu saat seusiannya sangat dimanja oleh kedua orang tua, merengek minta dibelikan sepeda, merengek, dan menangis minta dibelikan video game, marah ketika uang saku sekolah diberikan kurang, dan sikap arogan lainnya ketika saya seusianya…

Tetapi Anak Kecil Penjual POP MI itu, tampak sabar dan ikhlas dengan segala kondisi yang sedang dia jalaninya, sungguh tak tega hati ini. Kenapa anak yang masih sangat kecil seperti dia sudah harus merasakan kerasnya kehidupan? Di mana kedua orangtuanya? Adakah salah yang telah ia perbuat sehingga masa-masa kecilnya yang indah harus dirampas? Dan beribu pertanyaan luapan emosi ketidaksetujuan akan nasib yang dijalaninya. siapapun pasti mengatakan bahwa apa yang dijalaninya tidak sepenuhnya murni dari keinginannya atau mungkin terlalu sulit untuk memilih yang lain, Jika hidup dapat memilih, mungkin semua orang akan memilih hidup dalam kesempurnaan dan ketercukupan, tetapi inilah hidup yang harus dia jalani, atau Apakah Semua ini karena keadaan??

Lirik lagu bang Iwan fals, mewakili rintihan hati ini menyaksikan anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, hanya demi satu impian yang kerap ganggu tidurnya, anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal….. Sepanjang perjalan saya terhanyut dalam perasaan iba terhadap anak kecil itu. Sampainya kereta di stasiun Poncol pikiran saya ini masih terus saja memikirkan keadaan anak kecil Penjual Pop Mi di Stasiun Pekalongan, apakah saat ini dia sudah istirahat, tidur terlelap didalam rumah?? ataukah kembali menjajakan dagangannya pada kereta berikutnya yang singgah??? Entahlah???
Semoga Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang selalu bersamanya dan melindunginya.

 

Gambar 1. diambil disini

3 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juli 20
    Cukro permalink

    Dadi pengusaha cah cilek kuwi bakale jon!sangar yo..

  2. 2009 Juli 27

    Good Artikel Koh…
    Hikmah yg bisa di ambil..
    jangan menyepelekan hal sekecil apapun.. krn kita tak tau seberapa barokah hal kecil atau yang besar..
    besaran yg di dapat bukan dilihat dari kuantitasnya melainkan kualitas nya..

  3. 2009 Agustus 1
    thewindofchange permalink

    @ cukro : Semoga wae Ndan…

    @ Patrick : Nyepeleke aku dirimu ndan?? hahaha….

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS