Riwayat Hidup Pas Gek Cilik

Aku Lahir Jadi Bayi,

Puluhan tahun yang lalu disebuah Rumah Bersalin yang tidak mewah di sebuah kota pesisir utara pulau Jawa, terlahirlah seorang anak manusia sederhana dari keluarga miskin,(Pagi waktu itu). Bayi yang dinamakan FTS (Inisial) atau sering dikenal dengan sebutan Dean Santovic (Nama Moderen/Keren-e)  ini hadir kedalam dunia dengan tangisan dan senyum bahagia. Keadaan sehat wal afiat tanpa cacat dianugerahkan Oleh Gusti Sang Pencipta, yang berkuasa atas segala-galannya kepada bayi lemah ini.

Teringat ketika dalam gendongan dan pelukan ibu (halah sok iling-iling ow??). “nganteng, nganteng dewe nang!!… nganteng, nganteng dewe nang!! bagus, bagus dewe nang!! bagus, bagus dewe!!!..” kudangan ibuku ketika menimang-nimang bayi kesayangannya untuk menidurkan aku. 

Hahahaha…. Ibarat sebuah mantra, kudangan ibuku itu menjadi kenyataan, mantra yang mampu menyihir sang bayi menjadi lelaki tampan dan bagus ketika gerang (gede) nanti.. tetapi yo memang gawanane wis nguanteng, cilikane nguanteng, putih koyok sinyo pecinan. tapi gede-gedenane biasa-biasa waemalahan yen ono operasi wong elek mesti wajah-wajah koyok ngene iki sing sering ditangkap.

Aku dan Kedua Orang Tuaku,

Percampuran seorang buruh pabrik rokok dengan gadis Semarang-an menghasilkan ibuku yang sangat kolot. Pertemuan ibuku dengan seorang pemuda miskin pengangguran menjadikan sebuah ikatan keluarga yang penuh dengan dinamika, Bapakku dahulu adalah seorang pemuda pengangguran tetapi jalan hidup telah merubahnya, nasib baik merubah pemuda ini dengan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil di sebuah lembaga pendidikan negeri ternama di Jawa Tengah.

Bapak ku seorang putra tunggal dari keluarga miskin daerah pemukiman kumuh di Semarang. Hanya tamatan sekolah kejuruan waktu itu. Peninggalan dari mbah dan eyang hanya tinggal sebuah kenangan, bekas rumah gubug reot satu-satunnya yang dimiliki telah dibeli oleh juragan kaya dan sekarang gubug itu berganti dengan tembok gedung pemukiman mewah milik juragan cina di daerah Gutitan.

Aku, dan Warisan Nenek Moyangku,

Dengan trah keturunan nenek moyang leluhur yang  jauh dari golongan sosial bangsawan, jauh dari sosial kemewahan, namun fakta berkata lain sistem sosial dalam keluarga yang menganut sistem sosialita feodal kerajaan. Pandangan yang sangat mengagung-agungkan jabatan dan pangkat sangat kental dalam kehidupan keluarga saya. Sejak kecil diajarkan untuk selalu patuh kepada orang yang dianggap lebih tua, patuh kepada orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi, patuh kepada orang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi, patuh kepada orang yang memiliki harta yang lebih banyak dan lain-lain nya yang serupa dengan hal itu.

Pandangan untuk selalu mengabdi adalah segala-galannya. “Menjadi abdi adalah lebih baik”  itu prinsip yang dipegang teguh oleh keluarga besar saya. Pandangan sistem sosial feodalisme ini memang sudah tradisi turun-temurun tidak hanya di lingkup keluarga besar saya, tetapi juga mungkin terjadi keluarga lainnya, khususnya keluarga keturunan Jawa.

Sistem sosial Jawa sebagian besar mendewakan jabatan dan pangkat, mungkin sudah menjadi budaya hingga sekarang. Sistem sosial yang tidak mengutamakan prestasi kerja. kowe sopo??  bapakmu sopo?? kerjomu opo?? nduwe mu opo??. kata-kata yang sering terlontar dari mereka, pertanyaan itulah merupakan salah satu penilaiannya, dalam menyeleksi seseorang.

Pemukiman kumuh masa kecilku,

Ilen-ilen banyu nang kali sing mambu buadeg, tumpukan sampah mambu tengik dirubung laler, banyu rob mengenangi pemukiman kumuh adalah keseharianku. Menghabiskan masa kecil di sana sungguh menyenangkan…  aku dan teman-temanku seusia lainnya hidup terbiasa kemproh ngillany jijiki.

Saya sering oyak-oyak-an, dolanan grobag sodor, maling jambu tonggone, maling wesi nang pelabuhan, playon, klayaban tekan tambak lorog, sak grup mancing nang Banjir Kanal Timur, Nyerok-nyerok got golek kecebong, Bal-balan musuhan mbek kampung sebelah yang selalu diakhiri dengan pencak silat gelutan, Hobi udan-udanan, cabut sekolah, pit-pitan tekan pucang gading, penek-an pencilak-an gemandulan nang wit koyok kethek, adalah aktivitas keseharian dikala itu.

Semasa kecil aku tinggal di rumah nenekku yang berprofesi sebagai pedagang asongan, setiap hari cepek-an uang dagangan nenekku selalu raib tak ambil untuk membeli Gambaran (umbul) gambar Yankuro dan setin blundho. Waktu kelas 6 SD aku jago bermain setinan jika lawan mainnya anak TK, kalo lawan main dengan teman sepantaran selalu kalah karena susah ora iso diapusi.

Aku dan SD Sekolahku,

Setiap bangun pagi, mandi pagi, sarapan pagi, adalah hal yang mengasikan.. tetapi ketika memakai seragam sekolah adalah hal yang aku benci, opo maneh membuat pekerjaan rumah (PR) hal yang paling terbasiyo. Karena aku adalah benci sekolah.

Mata pelajaran yang sangat aku suka waktu sekolah adalah kesenian dan olah raga, selain kedua mata pelajaran itu persetan semua, matematika, opo maneh..hahahaha…

Waktu aku kelas empat SD, setiap akan dimulai pelajaran pak guru selalu memberikan 10 soal perkalian yang dahulu sangat populer dengan istilah mencongak (m-e-n-c-o-n-g-a-k), 10 soal perkalian dijawab di atas sobekan kertas dan dikumpulkan.. Dan selalu mendapat nilai jelek waktu mencongak, paling apik intuk nilai 5 (kuwi wis syukur alhamdullilah) biyasane dari sepuluh soal benar 3 atau 4, dan selalu intuk nilai 3 dan 4. hehehe…

Sepulang sekolah saya selalu tidak langsung  pulang kerumah, mesti nongkrong bersama bolo kurowo ndisik nang ngarep sekolahan, sewa dolanan gem bot (game watch) di lek-e dodolan gulali. Sewa sak game mbayar seket (Rp. 50) rupiah. Pernah suatu ketika aku sak gemombrol bolo kurowo bar dolanan gem bot di palak karo bocah SMP. “Wahhh Gawat iki…!!!”

Aku sadar kalau aku dan teman-temanku sedang dipalak, maka aku putuskan “Larriiiiiiiiiiiiiiii….!!!” aku lari dewe paling ngarep, terus kanca-kancaku yo podo melu mlayu kabeh.. maka terjadilah kejar-kejaran mirip Film Mafia Hongkong. hahahaha…… aku Selamet (Bukan Selamet anaknya pak Min lho ya..!!) lari mumpet nang dadah kebun jagung, sedangkan temanku yang lainnya podo nyebar menyelamatkan diri.. haha…

Pernah juga sepulang sekolah golek iwak nang kerkop (Kerkop adalah pemakaman orang-orang bangsa londo dan bangsawan cina) depan pabrik Nyonya Mener. .  Sekarang kerkop sudah menjadi sekolahan gede Bertingkat. Golek iwak  tekan sore mulih omah diomeli Mbahku amargi seragam sekolahe kotor kabeh gopak lempung. hahaha…

Trusss.. cerito opo maneh ya..???

Wis Ah… ceritane ora usah dowo-dowo… Paling yo ora diwoco…. hahahahaaaaa……….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.